Penulis Bulukumba Alfian Nawawi Rilis Buku “Republik Temu-Lawak”

BULUKUMBA – Sebuah buku terbaru karya penulis Bulukumba, Alfian Nawawi resmi meluncur. Buku kumpulan esai Alfian diberi judul “Republik Temu-Lawak”.

Lebih 300-an esai yang ditulis Alfian Nawawi dalam rentang tahun 2017-2019 tersebar di media cetak, online, dan media sosial. Namun hanya 70 esai pilihan yang dimuat ke dalam buku ini. Untuk bukunya kali ini, Alfian mempercayakan penerbitan dan penjualannya kepada J-Maestro, sebuah perusahaan penerbitan di Bandung.

CEO portal Beritabulukumba.Com, Jabbar Bahring menulis sebuah Kata Pengantar untuk buku ini, bertajuk “Lebih Dari Sekadar Menggamit Ingatan (Setumit Pengantar Kecil)”. Salah satu poin yang ditulis Jabbar menyangkut tulisan-tulisan Alfian Nawawi yakni narasinya yang asik, relevan, dan ‘menggigit’, kadang diolah sedemikian cair, lugas, dan sederhana. Namun juga terkadang sulit dikunyah oleh pembaca biasa.

Dalam paragraf lainnya Jabbar menulis, “Selintas tulisan-tulisan Alfian Nawawi kadang digarap santai, membanyol, namun bernas. Benang merahnya pun jelas: sikap kritis terhadap kekuasaan. Dia telah menghayati kemerdekaan berpikir dah menulis.”

“Sebagian esai dalam buku ini kebetulan dipilih dari kolom tetap ‘Catatan Tumit La Culleq’ di situs beritabulukumba.com,” kata Alfian Nawawi, ketika ditemui di Dihyah PROject, rumah baca yang dikelolanya di Palampang, Desember 2019.

Karya-karya lainnya dari pendiri Forum Pustaka Bulukumba dan Gerakan Pojok Baca 137 ini sebelumnya, antara lain, naskahnya “Dipersunting Bumi” dimuat dalam antologi cerpen dongeng eksperimental “Pohon Yang Tumbuh Menjadi Tubuh” (Gora Pustaka, 2018). Naskahnya “Sapobatu” terpilih sebagai salah satu naskah terbaik dalam “Sayembara Cerita Rakyat Bulukumba” yang diselenggarakan oleh DPD II KNPI dan Pemkab Bulukumba, 2019 dan sedang dalam proses penerbitan. Jauh lagi sebelumnya menulis buku “Inspiring Bulukumba” (Mafazamedia, 2014).

Sedangkan puisi, esai, dan cerpennya terdapat dalam berbagai antologi, di antaranya: Rumah Putih -Antologi Puisi Serumah (Ombak, 2013); Ahyar Anwar Yang Menidurkan dan Membangunkan Cinta: Sebuah Obituary (Ombak, 2013); Goresan-Goresan Indah Makna Kasih Ayah Bunda (Oksana, 2015); dan Love Never Fails (NulisBukuCom, 2015).

Sarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar ini juga masih sedang merampungkan beberapa bukunya, di antaranya: “Mencari Bulukumba dalam Gelombang Radio Siaran” -Sebuah Tinjauan Sejarah, Budaya, dan Komunikasi-; “Bulukumba, Sesobek Catatan Kaki Revolusi”; “Kembalikan Kelaminku” (kumpulan cerpen); Samindara (antologi cerita rakyat Bulukumba); dan sebuah buku biografi yang judulnya masih dirahasiakan.

Saat ditanya terkait ‘benang merah’ dalam buku Republik Temu-Lawak, eks penyiar yang lebih dikenal dengan nama Ivan Kavalera pada beberapa program sastra dan news di Radio Cempaka Asri FM (2005-2013) ini menjawab, “Hanya sekumpulan ‘gerutu’ campur ‘gurau’. Lebih tepatnya, sekumpulan celetukan atau tulisan iseng.” Alfian menjelaskan sambil tersenyum.

Penulis yang juga blogger, youtuber, dan kartunis ini yang juga pernah sempat menimba ilmu di Fakultas Sastra, Unhas, Makassar ini, terkait esai-esainya yang kadang ‘membanyol’ di wilayah politik meskipun juga banyak membincang budaya, seni, dan sastra, menurut Alfian, seliar apapun maka gagasan dan pemikiran harus ditulis. “Sejarah dibangun oleh peristiwa-peristiwa namun sejarah hanya bisa dibangunkan oleh tulisan-tulisan,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *